Komnas HAM : Terjadi Pelanggaran HAM Serius pada Kasus Buol Berdarah
Friday, 03 September 2010 06:47
Tim Admin Indonesian Voices
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sementara ini telah mengidentifikasi beberapa bentuk indikasi pelanggran hak asasi di Buol, Sulawesi Tengah (Sulteng), dan menilai telah terjadi pelanggaran HAM serius. "Terjadi pelanggaran HAM serius pada kasus Buol berdarah ini," kata Komisaris Daerah HAM Sulteng, Dedy Askari, Jumat.
Bentrok kepolisian dan warga yang terjadi tiga hari sebelumnya itu telah menewaskan tujuh warga sipil dan melukai puluhan orang lainnya.
Menurut dia, meskipun belum ada kesimpulan yang final terkait kasus Buol itu, pihaknya sudah bisa memastikan insiden yang terjadi di Buol adalah bagian dari pelanggaran hak asasi. Dedy mengatakan, pihaknya sudah mendatangai sejumlah pihak untuk meminta klarifikasi insiden Buol berdarah itu.
Diteragkannya, pihak-pihak yang sduah ditemui pihaknya adalah Kepala Kepolisian Daerah Sulteng, manajeman Rumah Sakit Umum (RSU) Daerah Buol dan keluarga korban tewas.
Last Updated on Friday, 03 September 2010 06:56
Read more...
|
Setiap Peluru Polisi yang Ditembakkan Di Buol Harus Dipertanggungjawabkan
Friday, 03 September 2010 06:23
Tim Admin Indonesian Voices
Berbagai pihak di Sulawesi Tengah menyesalkan bentrokan antara massa dan polisi di Kabupaten Buol yang merenggut lima warga, Rabu dinihari, dan mengharapkan tidak meluas seperti konflik Poso.
Diharapkan insiden ini segera dilokalisasi agar tidak pecah menjadi kerusuhan rasial seperti yang pernah terjadi di Poso tahun 1999 sampai 2002, kata anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah asal daerah pemilihan Buol dan Tolitoli Syarifuddin Adam di Palu, Rabu.
Ia mengingatkan semua pihak untuk waspada jangan sampai bentrokan masyarakat dengan aparat kepolisian tersebut dimanfaatkan pihak lain untuk memecah belah masyarakat Buol. Hubungan kekerabatan diantara masyarakat Buol itu cukup kuat. Oleh karena kekerabatan itu sehingga hati mereka tergerak untuk membela sesamanya.
Politisi Partai Hanura ini mengatakan, hubungan kekerabatan dan kekeluargaan di Buol cukup tinggi sehingga bahasa komunikasi masyarakat setiap harinya lebih banyak menggunakan bahasa Buol dibanding bahasa Indonesia. "Sekarang ini masyarakat Buol bersatu. Mereka sebetulnya ingin kejelasan tentang meninggalnya saudara mereka di tahanan polisi," kata Syarifuddin.
Read more...
Gedung Baru DPR RI 36 Lantai, Ada Spa, Kamar Tidur Pribadi dan Kolom Renang
Thursday, 02 September 2010 11:30
Tim Admin Indonesian Voices
Pembangunan gedung baru DPR RI yang menelan biaya sangat besar, Rp.1,6 triliun di nilai tidak sensitif terhadap kondisi ekonomi rakyat sekarang ini. Rencananya pembangunan gedung baru sebanyak 36 lantai tersebut nanti akan dilengkapi dengan kolom renang, ruang spa dan tempat tidur untuk istirahat anggota dewan. Bahkan ada yang menyindir, seakan menyaingi Hotel Hilton.
Rencana yang penuh dengan kontropersi ini ternyata tetap akan dilanjutkan dan tidak akan dihapus dari anggaran. Seperti yang dikemukan oleh Ketua DPR RI sekaligus Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR, Marzuki Alie, memastikan pembangunan gedung baru tidak dapat dihentikan. Penolakan pembangunan gedung baru dianggapnya tidak masuk akal, sebab BURT sudah membicarakannya bahkan hingga DPD dan MPR.
''Masak distop?'' kata Marzuki, Kamis (2/9). Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini mengajak semua pihak berpikir rasional kala membicarakan pembangunan gedung baru.
Panitia pembangunan gedung, dikatakan Marzuki, sudah dibentuk. Mereka juga dipastikan bekerja menjalankan usulan BURT periode lalu yang meminta pembangunan gedung baru untuk mendukung kinerja dewan yang membutuhkan lebih banyak ruang bagi staf ahli. ‘'Konsultannya sudah dibayar, desainnya sudah selesai untuk 27 lantai, kemudian direncanakan jadi 36 lantai karena satu anggota dewan akan dilengkapi lima staf ahli,'' jelas dia.
Read more...
|
Obama Salah Ucap yang Berakibat Perubahan Kebijakan
Thursday, 02 September 2010 22:53
Tim Admin Indonesian Voices
Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang biasanya fasih berpidato dan memiliki kemampuan verbal yangn tinggi untuk mengangkat kalimat demi kalimat dengan sangat baik, tetapi ternyata bisa salah ucap juga. Dalam pidatonya pada Selasa (31/08/2010) lalu ia membicarakan waktu penarikan pasukan dari Afghanistan yang salah ucap.
Dalam pidatonya 17 menit itu berbicara mengenai pergeseran di Irak akan membebaskan sumber daya yang harus ditanggung pemerintah AS. Rencana berikutnya adalah penarikan pasukan dari Afghanistan. Naskah pidato Obama menyatakan pasukan Amerika Serikat akan mulai ditarik pada Juli 2011, tanggal yang sudah ditetapkan, tetapi ternyata Obama mengatakan, "Dan, Agustus mendatang, kami akan memulai peralihan ke tanggung jawab Afghanistan."
Pejabat Gedung Putih menyatakan perubahan tanggal itu bukan perubahan kebijakan. Juru bicara Gedung Putih Robert Gibbs mengatakan kepada jaringan berita CNN bahwa Obama hanya "terpeleset" yang menyebabkan penarikan pasukan AS di Afghanistan bergeser lebih lambat satu bulan di tahun 2011.
Pidato 17 menit ini buru-buru disampaikan untuk meredam keresahan masyarakat internasional dan khusunya di AS atas ketidakjelasan nasib tentaranya di Afganistan. Pernyataan Obama tentang penarikan pasukan di Irak dan Afghanistan ini terkait dengan semakin rendahnya dukungan internasional berupa permintaan negara-negara sekutu AS untuk pulang lebih cepat, seperti Belanda, Australia, Inggris, Prancis, Kanada, Jepang, Yunani, Spanyol dan masih banyak lagi yang merasa bahwa perang di Afghansitan semakin tidak rasional dan pemborosan. Masing-masing negara mengalami tekanan oleh rakyatnya masing-masing bahkan berakibat kejatuhan pemerintahan seperti yang terjadi di Belanda.
Read more...
Krisis Indonesia Malaysia Disikapi Bukan dengan Cara Reaksioner Semata Namun Harus Pendekatan yang Utuh
Friday, 03 September 2010 01:40
Tim Admin Indonesian Voices
Pengamat sosial politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Arie Sujito MSi menilai upaya pemerintah yang memilih jalur diplomasi dalam mensikapi "memanasnya" hubungan dengan Malaysia harus tetap punya target yang jelas. "Soal memanasnya hubungan Indonesia dengan Malaysia, sebenarnya kita perlu merespon bukan dengan cara reaksioner semata namun harus pendekatan yang utuh," katanya di Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, presiden perlu tegas bersikap dan tidak lembek, tetapi juga tidak sempit dalam bertindak karena saat ini pemerintah Indonesia selalu menghadapi dilema yang cukup sulit.
"Di satu sisi selalu terjebak dalam gesekan dan serasa kalah dalam tekanan politik tetapi, sikap keras yang akan dilakukan pasti juga menghadapi beban sosial yang cukup rumit yakni banyaknya warga Indonesia yang masih terserap bekerja dan menggantungkan hidup di Malaysia," katanya.
Ia mengatakan, oleh karena itulah jalan diplomasi dan negosiasi harus punya target yang jelas misalnya pendekatan hukum internasional dan prinisp-prinsip kedaulatan negara.
Read more...
|
|
|
|
|
|
Page 1 of 101 |