Oleh Paulus Sunarto
Satu mata uang di dunia yang paling banyak dipakai tetapi dimiliki oleh Negara yang sekarang ini termasuk Negara yang produknya kurang laku dipasar. Ya betul! Mata uang itulah, dolar Amerika Serikat ($ US). Jika bandingkan dengan Yen atau Euro yang didukung oleh produk-produk jual yang memang cukup kuat dipasar, atau mata uang Yuan, China yang produk negaranya menggurita kemana-mana. Tetapi pertanyaannya mengapa nilar dolar begitu kuat? Apa rahasianya? Mata uang ini tetap kuat karena menjadi mata uang export import banyak Negara walaupun tidak terkait dengan produk Amerika Serikat. Transaksi komoditas yang paling banyak menyerap dolar adalah minyak dan gas.
Krassimir Petrov, seorang pakar ekonomi Russia, mengatakan bahwa AS akan mengalami kesulitan kalau negara-negara penghasil minyak bumi dan anggota-anggota OPEC bersepakat menetapkan mata uang Euro dalam penjualan minyaknya, dan meninggalkan mata uang dolar AS sebagaimana sekarang berlaku.
Presiden World Bank (Bank Dunia) Robert Zoellick menyerukan agar mempertimbangkan jika ingin menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang cadangan devisa negara. Alasannya, saat ini ada berbagai mata uang negara berkembang yang lebih menjanjikan. Kekuatan ekonomi dunia saat ini pun telah bergerser tidak hanya dimotori oleh negara maju dan kaya. Kenyataannya, kemajuan ekonomi dunia saat ini bersumber dari berbagai negara. Demikian seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, yang dipublikasikan Reuters, Senin (28/8/2009). "Amerika Serikat akan keliru menempatkan dolar sebagai cadangan dominan dunia mata uang. Jika dilihat, pilihan mata uang lainnya sudah banyak," tambah Zoellick.
Joseph Stiglitz, profesor ekonomi Columbia University dalam sebuah konferensi bertajuk Asia: Road to a New Economy, di Bangkok, Thailand, Jumat (21/8/2009) berpendapat tentang dolar dalam isu perdagangan global. Ia menyatakan bawah dolar yang sekarang banyak digunakan sebagai cadangan devisa banyak Negara akan menjadi boomerang oleh Negara tersebut. Selain akan melemahkan nilai mata uang Negara tersebut, juga akan menyebabkan pemborosan anggaran untuk mengamankan nilai mata uang Negara bersangkutan dengan ekpansi pasar mata uang oleh Bank Sentral. Pengalaman seperti ini memang benar-benar terjadi di Indonesia, atau Negara lain di Asia, contohnya Thailand.
Joseph Stiglitz, seperti dilansir Bloomberg juga berkata bahwa: “Karenanya dibutuhkan sebuah sistem mata uang global." Ia juga berpendapat bahwa: "Sistem cadangan devisa yang kini berlaku mulai berjumbaian." Ada beberapa Negara yang berniat mengganti mata uang untuk transaksi migas,yaitu Negara-negara anggota OPEC. Wacana mengganti mata uang dolar Amerika dengan mata uang lain dalam transaksi migas muncul dalam pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) di Riyadh. Dalam pertemuan itu, para menteri OPEC diminta untuk mengevaluasi pemakaian mata uang dolar Amerika dalam transaksinya.
Instabilitas dolar dan kecendrungan melemahnya dolar menyebabkan para anggota OPEC merasa bahwa mata uang dolar sebagai transaksi minyak memiliki resiko kerugian akibat depresiasi nilai dalam perdagangan internasional. Nilai dolar telah merosot 12 persen semenjak 5 Maret 2009, dan sampai saat ini masih terus mengalami depresiasi nilai terhadap berbagai mata uang dunia. Depresiaasinya signifikan sekali jika terhadap indeks yang terdiri dari euro, yen, dan empat mata uang utama lainnya. Seperti Yuan China. Seperti kita ketahui bahwa China saat ini sebagai pemilik cadangan devisa terbesar di dunia.
Dalam laporan jurnalis Robert Fisk tersebut dipublikasikan dalam The Independent edisi Selasa (6/10/2009) yang menjelaskan bahwa negara-negara Timur Tengah mengintensifkan pembicaraan dengan pertemuan tertutup dengan Negara-negara penghasil dan pengimport minyak seperti Rusia, China, Jepang, dan Prancis, untuk menghentikan penggunaan dolar Amerika Serikat dalam perdagangan minyak. "Pertemuan rahasia telah digelar oleh menteri-menteri keuangan dan para gubernur bank sentral di Rusia, China, Jepang, dan Brasil untuk mengolah skema itu. Artinya, minyak sebentar lagi tidak dihargai dengan dolar," sebut laporan tersebut, yang mengutip sumber di negara-negara Teluk Arab dan sumber perbankan China di Hong Kong.
Selain itu laporan tersebut juga menyebutkan bahwa negara-negara Teluk berencana mengalihkan perdagangan minyak mentah dalam sembilan tahun dari dolar AS ke basket currencies, termasuk yen Jepang, yuan China, euro, emas, dan sebuah mata uang yang direncanakan berlaku bagi negara-negara di Dewan Kerja Sama Teluk, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar.
Penggunaann dolar ditempat lain seperti di Negara-negara Balkan, juga akan mengalami hal serupa. Khususnya dalam transaksi gas dengan Rusia. Negara-negara Balkan ini turut mendesak sistem mata uang global yang baru untuk menggantikan dolar sebagai cadangan devisa yang dominan. Seperti penjualan gas Rusia ke Ukraina. Gas Rusia kembali mengalir ke Ukraina dan negara-negara Eropa lainnya. Dalam kesepakatan baru Rusia dan importer juga mebahas mata uang yang akan digunakan dalam tranasksi tersebut, salah satu mata uang yang siap digunakan adalah Euro. Moskou dan Kiev menandatangani perjanjian mengenai pasokan gas Rusia untuk sepuluh tahun mendatang. Ukraina akan membayar harga sesuai harga pasar.
Sebenarnya Pemerintah AS masih sangat berkeinginan untuk menempatkan dolar sebagai mata uang global, terutama sebagai mata uang transaksi minyak dan gas. Dengan begitu semua negara yang mengimpor minyak memerlukan dolar AS. Untuk itu mereka mengekspor dalam jumlah besar ke AS agar memperoleh ASD yang mereka perlukan. Terutama negara-negara yang memerlukan banyak impor minyak seperti China dan Jepang akan memaksimalkan ekspornya ke AS.
Produk mereka yang mempunyai nilai riil masuk AS dan dibayar dengan dolar AS. Satu hal yang sangat mengecewakan berbagai Negara yang bertransaksi dengan AS, adalah kebijakan Pemerintah AS yang sejak 15 Agustus 1971 AS telah melepaskan mata uang ASD dari emas dan tidak lagi mau menukar mata uang itu dengan emas.
Kerugian lain yang dirasakan oleh pengguna dolar adalah makin banyak dolar AS dicetak makin menurun nilai riilnya. Itu berarti bahwa negara-negara yang mengekspor ke AS memperoleh dolar AS yang jauh di bawah nilai produk ekspornya. Mereka bersedia melakukan itu karena memerlukan dolar AS untuk membeli minyak yang amat mereka butuhkan.
Maka seadaninya rencana Negara-negara anggota OPEC benar-benar di realisasikan maka akan terjadi krisis terhadap mata uang ini. Umpamanya saja diganti dengan mata uang Uero maka mata uang dolar akan merosot tajam dan akan menempati posisi keseimbangan yang baru berdasarkan daya tawarnya, sebaliknya euro akan mengalami hal yang berbeda.
Inilah titik kritis dolar sebagai mata uang global saat ini. Isu perubahan mata uang dikalangan anggota OPEC ini membuat berbagai pejabat keuangan AS gerah. Seperti apa yang ditunjukkan oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat Timothy Geithner saat menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers gabungan di Singapura, Kamis (12/11) malam, seusai menghadiri pertemuan akhir Menteri-menteri Keuangan 21 Anggota APEC (FMM APEC). "Sangat penting bagi Amerika untuk tetap memiliki dollar yang kuat. Makanya, kami tetap melanjutkan fokus pada perbaikan fundamental, memulihkan kepercayaan, dan bukan hanya untuk menstabilkan sistem keuangan, melainkan juga memulihkan ekonomi."
Menurut Geithner, posisi penting nilai tukar dollar AS dalam setiap transaksi perdagangan dunia membawa tanggung jawab kepada Amerika untuk menjadi sumber stabilitas dan penguatan ekonomi global. Atas dasar itu, Amerika akan tetap meneruskan reformasi dan menjadi rekan kerja yang kuat bagi negara-negara lain di Asia Pasifik. "Kami akan bekerja sama untuk berhadapan langsung dengan tantangan ekonomi yang dihadapi saat ini. Atas tantangan yang ada itu, Amerika memiliki tanggung jawab dalam menghadapinya. Ini adalah pekerjaan yang tidak bisa kita lakukan sendirian. Masalah ini hanya bisa dihadapi secara bersama-sama”, jelas Geithner.
Sayangnya kecemasan AS terhadap kemungkinan Negara-negera pengguna dolar akan mengganti mata uang tersebut ke mata uang lain, tidak diikuti oleh kebijakan yang memadai dalam kaitannya dengan penggunaan transaksi dolar di dunia internasional.









