Oleh Sudirman
Ketika titik nadir perjuangan RI berada dalam titik menentukan para pejuang kemerdekaan RI seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Sahrir, Chairul Saleh, M. Husni Tamrin, Agus Salim dan sebagainya harus berhadapan dengan orang yang sulit keluar dari ketergantungan materialisme. Penyakit moral hazard yang parah justru ada juga pada saat perjuangan seperti itu. Inilah percaturan ideology saat terjadi bentrokan dahsyat antara para pendukung nasionalis yang berideologi dan bercita-cita mendirikan kemerdekaan Indonesia dengan para palecur negeri yang pragmatis.
Perang isme yang satu untuk mendesign nation building sedangkan yang lain sedang membuncitkan perut dengan menjilat penjajah, untuk sekedar kucuran anggaran dari Pemerintah Hindia Belanda. Para pelacur negeri ini dari dulu zaman perjuangan kita sampai sekarang tidak akan pernah habisnya selama masih ada para pembelinya.
Kita masih ingat saat awal pembentukan Negara kita, saat sang Penjajah masih mencengkram di tanah kita, saat itu terjadi pemecahan wilayah Indonesia menjadi Negara-negara bagian yang dibnetuk oleh Belanda sebagai Negara boneka penajajah itu. Sebenarnya apa yang terjadi akibat pramatisme para pemimpin kita yang lebih loyal kepada Belanda dan melacurkan negeri ini demi keuntungan sesaat.
Negara-negara boneka seperti Negara Indonesia Timur berdiri pada bulan Desember 1946. Wilayah kekuasaannya meliputi sebelah timur Selat makassar dan Selat Bali. Negara Indonesia Timur dikepalai oleh Cokorda Gde Raka Sukawati. Negara Sumatera Timur didirikan pada tanggal 25 Desember 1945 dan diresmikan pada 16 Februari 1947. Wilayahnya meliputi Medan dan sekitarnya. Negara Sumatera Timur dikepalai oleh Dr. Mansur. Negara Sumatera Selatan didirikan pada 30 agustus 1948. Wilayahnya meliputi Palembang dan sekitarnya. Negara Sumatera Selatan dikepalai oleh Abdul malik. Negara Jawa Timur berdiri pada tanggal 26 Nopember 1948. Wilayahnya meliputi Surabaya, malang, dan daerah-daerah sebelah timur hingga ke Banyuwangi. Negara Jawa Timur dikepalai oleh R.T. Kusumonegoro. Negara Pasundan berdiri pada tanggal 26 Februari 1948. Wilayahnya meliputi daerah Priangan, Jawa Barat dan sekitarnya. Negara Pasundan dikepalai oleh R.A.A. Wiranatakusumah, dan negara Madura berdiri pada tanggal 16 Januari 1948. Wilayahnya meliputi Pulau Madura dan sekitarnya. Negara Madura dikepalai oleh Cakraningrat.
Mengapa mereka menjadi boneka Belanda? Tidak lain tidak bukan karena kucuran anggaran Belanda akan menjadi milik mereka para penjual negari ini, selain kekuasaan yang juga akan mereka dapatkan. Mereka para pemimpin negara-negara boneka tersebut harus tunduk dan ini benar-benar disetir oleh Van Mook sebagai Kepala Negara Pemerintah Federal. Juga siap menjadi bagian dari kekuasaan negeri penjajah.
Pada tanggal 29 Agustus 1947 atau 4 hari setelah terbentuknya KTN, Belanda mengumumkan garis demarkasi baru yang dikenal sebagai "Garis Van Mook" (Van Mook Line) yang didasari dengan argumen bahwa daerah yang dianggap sebagai wilayah kekuasaan Belanda adalah yang berada di belakang pos-pos terdepan pasukan KNIL/KL. Garis Van Mook ini jelas memperluas Negara Pemerintah Federal yang terdiri dari negara-negara bagian tersebut. Padahal di belakang pos-pos yang merupakan benteng-benteng terpisah tersebut pasukan TNI dan kekuatan RI lainnya. Konsep "Garis Van Mook" ditolak mentah-mentah oleh RI, tetapi diterima dengan senang hati oleh para pelacur negeri tersebut, yang kemudian mengadakan Konferensi Federal di Bandung pada tanggal 27 Mei 1948 lahirlah Badan Permusyawaratan Federal (BFO) untuk memperkuat eksistensi negara-negara boneka Belanda tersebut.
Pada masa lalu para materialis mungkin akan berbeda dengan masa sekarang, masa lalu kaum materialis akan berpaya untuk mendapakan "keju Belanda", sekarang ini kaum tersebut menggerogoti kekayaan negara melalui korupsi. Intinya tetap sama kepentingan untuk mendapatkan uang. Inilah penyebab utama mengapa kita yang telah lebih dari setengah abad merdeka. Juga harus menghadapi kaum penjual negeri ini. Bisa kira rasakan saat ini, saat negeri ini di rundung malang, korupsi yang tertinggi di dunia. Para pelacur negeri ini malah semakin "menggila". Materialisme pelacur model sekarang ini berupa korupsi yang sangat berani dan sangat melawan.
Korupsi bisa dalam berbagai bentuk bisa dengan menghantam anggaran, bisa dengan menghantam kepentingan umum, bisa juga dengan melayani urusan asing dengan menerima bayaran mahal, atau bisa dengan model “bail out century”. Semua bisa dilakukan yang penting membesarkan perut sendiri, menjual negeri ini untuk kepentingan sendiri dan golongan.
Seperti survey Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berpusat Hongkong, bahwa Indonesia menempati urutan teratas dalam daftar negara paling korup di antara 16 negara tujuan investasi di Asia Pasifik. Selain itu Indeks Persepsi Korupsi Indonesia menurut survey Transparancy International pada akhir tahun 2009, Indonesia menduduki peringkat 111 dari 180 negara. Survey Transparancy International ini dilakukan pada September sampai dengan Desember 2008, bertujuan untuk mengukur tingkat korupsi pemerintah daerah berdasarkan persepsi pelaku bisnis setempat. Survei ini juga mengukur tingkat kecenderungan terjadinya suap di 15 institusi publik di Indonesia, yang ditampilkan dalam Indeks Suap. Total sampel dari survei ini adalah 3841 responden, yang berasal dari pelaku bisnis (2371 responden), tokoh masyarakat (396 responden), dan pejabat publik (1074). (Sumber : www.ti.or.id). Berarti posisi kerawanan korupsi di Indonesia masih sama dengan negara-negara di Afrika Tengah.
Ini adalah bukti bahwa para pelacur negeri ini tidak pernah mati. Justru saat ini adalah saat dimana orang-orang yang idealis dan nasionalis menjadi bahan tertawaan para politikus busuk, eksekutif penjilat, LSM bayaran, survey bayaran, dan para budget hunter. Para penganut ideology materialism juga menjadi pelacur negeri dengan membangun partai untuk menjual perahu, baik perahu legislative maupun perahu kepala daerah. Para pelacur lain berupa opurtunis yang menjadi broker penghubung antara para orang kaya (pemilik modal) dengan para politikus penjual perahu. Pada saat pemilu kepala daerah para broker ini sibuk mencari calon kepala daerah yang paling “tebel kantongnya.”
Seandainya Soekarno masih ada,maka Beliau akan berkata “Hai para kapitalis! Hai para penjilat! Hai para pelacur! Hai para penjual asset negara! Anda akan berhadap dengan rakyat kami kalau anda sebagai pelacur.” Dulu para pelacur ini harus berhadapan dengan Kaum Nasionalis yang kuat dan teguh seperti Bung Karno atau Bung Hatta, sekarang ini harus berhadapan dengan siapa? Melihat bangsa kita yang terpuruk sekarang ini tampaknya harus lahir para kaum nasionalis seperti dahulu yang kuat dan berpengaruhi atau Kaum nasionalis dulu cita-citanya akan diteruskan para pejuang mahasiwa sekarang ini. Semoga harapan ini benar adanya.









