Rusia siap untuk berpartisipasi dalam tender untuk menawarkan Turki S-300 dan S-400 sistem rudal darat ke udara, eksportir senjata yang dikontrol pemerintah mengatakan pada hari Rabu.
Sistem Pertahanan Udara Rudal darat ke udara Rusia ini telah mengalami modifiaksi terus menerus sejak era Uni Soviet tahun 1950, dan modivikasi terus berlanjut sampai sekarang ini.
Model-model awal SAM Rusia seperti Sishanud SAM S-25 sampai generasi sekarang ini S-300 dan S-400 yang sangat dikagumi para pejabat pertahanan Turki. Sistem pertahanan rudal darat ke udara ini juga sudah dibeli oleh China, Iran dan Arab Saudi.
Rusia terus berupaya meningkatkan keperkasaan angkatan bersenjatanya dan berupaya menjadi yang terkuat di dunia. Teranyar, negeri itu akan memutakhirkan sistem pertahanan udara dan angkasanya, untuk mengantisipasi ancaman dari negara lain.
"Pada 2030, negara-negara lain, khususnya Amerika Serikat, akan dapat mengirimkan serangan dengan presisi koordinat yang tinggi dari udara dan luar angkasa kepada setiap sasaran di seluruh wilayah Rusia," papar Kepala Staf Angkatan Udara Rusia Jenderal Alexander Zelin, yang diktuip dari laman Ria Novosti, Rabu (12/8/2009).
"Itulah mengapa tujuan pengembangan Angkatan Udara Rusia hingga 2020 adalah untuk menciptakan sebuah cabang baru Angkatan Bersenjata, yang dapat membentuk inti pertahanan udara dan angkasa, guna menyediakan alat penangkis yang dapat diandalkan di saat damai, dan memukul mundur setiap agresi militer dengan memanfaatkan persenjataan konvensional dan nuklir di masa-masa perang," papar sang jenderal.
Menurut Zelin, seluruh unit Angkatan Udara secara konstan akan siap bertempur pada 2020. "Kami berencana mengadakan transisi unit-unit Angkatan Udara bertahap ke status siap tempur secara konstan, dan menyelesaikan tugas ini pada 2020," ujarnya.
Selama periode ini, Angkatan Udara akan mengantarkan seluruh unit tempur kepada kekuatan penuh, melengkapi mereka dengan persenjataan baru dan modern, dan meningkatkan pelatihan tempur kepada pilot-pilot militer.
Di bawah konsep baru tersebut, brigade pertahanan udara-angkasa akan dibentuk dalam Angkatan Udara Rusia, dan mereka akan dilengkapi dengan sistem pertahanan udara S-400 dan S-500.
S-400 Triumf (SA-21 Growler) didesain untuk mencegat (intercept) dan menghancurkan target udara pada jarak hingga 400 kilometer, dua kali dari jarak MIM-104 Patriot milik Amerika Serikat, dan 2,5 kali lipat dibandingkan S-300PMU-2 yang dimiliki Rusia.
Sistem tersebut juga diyakini dapat menghancurkan pesawat tempur stealth, rudal kapal, rudal balistik, dan efektif pada jarak hingga 3.500 kilometer dan berkecepatan hingga 4,8 kilometer per detik. Sista ini dibangun untuk mengatasi pembom tinggi Amerika B-52 Stratofortress.
"Militer Turki memiliki kebutuhan besar untuk S-300 dan S-400 sistem rudal pertahanan jangka panjang," kata CEO Rosoboronexport, Anatoly Isaikin. "Rusia telah menyatakan kesiapannya untuk mengikuti tender untuk pengiriman sistem seperti itu."
Dia tidak memberikan indikasi tentang apa modifikasi SAM khusus akan ditawarkan atau jangka waktu untuk tender.
Ahli militer Turki mengatakan Ankara yang tertarik pada rudal Rusia, yang secara efektif bisa melindungi perbatasan selatan negara itu.
Versi lanjutan dari sistem rudal S-300, yang disebut S-300PMU1, memiliki jangkauan lebih dari 150 kilometer (lebih dari 100 mil) dan dapat mencegat rudal balistik dan pesawat di ketinggian rendah dan tinggi, sehingga efektif dalam menangkal serangan udara.
The S-300V/Antey 2500 (SA-12 Gladiator / Giant) terdiri dari kendaraan perintah baru, array radar canggih dan sampai enam kendaraan peluncur loader ditugaskan untuk masing-masing.
S-400 (SA-21 Growler) secara bersamaan mampu menarik enam target untuk berbagai macam 400 km (250 mil) dan ketinggian yang sampai 30 kilometer, termasuk pesawat, rudal jelajah, dan rudal balistik. Sistem pertahanan ini mampu menangkis serangan F22 Amerika Serikat.
Sumber : Ria Novosti









