ASEAN harus menjadi organisasi kawasan yang tanggap terhadap perubahan kondisi di tingkat regional dan global. Hal disampaikan Perdana Menteri (PM) Thailand Abhisit Vejjajiva dalam pidato pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-15 ASEAN, di Hotel Dusit Thani, Hua Hin, Thailand, Jumat. Abhisit Vejjajiva juga menyerukan organisasi ASEAN untuk menjadi suara perwakilan negara berkembang dalam Forum G20 untuk mengatasi dampak krisis keuangan global yang masih berlanjut.
Hanya dengan begitu, menurut Abhisit, ASEAN dapat menjadi organisasi yang tetap relevan dan memiliki visi yang tetap hidup. Ia menambahkan "Keterwakilan ASEAN dalam forum G20 telah menunjukkan bahwa kepentingan ASEAN tidak hanya menjadi urusan negara-negara Asia Tenggara, tetapi juga seluruh dunia.
Kita telah menjadi suara negara-negara berkembang lainnya dalam usaha kita untuk mengatasi krisis ekonomi di pertemuan G20 London dan Pittsburgh," tutur Abhisit yang menyampaikan pidato dalam Bahasa Inggris.
ASEAN bersama dengan tiga rekan mereka yaitu China, Korea Selatan, dan Jepang, yang tergabung dalam ASEAN+3 telah membentuk "Chiang Mai Initiative" guna menyediakan dana cadangan bagi negara ASEAN yang kekeringan likuiditas akibat krisis finansial dunia.
Untuk meningkatkan peran di tingkat global, ASEAN juga berniat mengeluarkan deklarasi bersama untuk memperkuat posisi negara berkembang dalam negosiasi perubahan iklim di bawah konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang perubahan iklim. Deklarasi itu dikeluarkan pemimpin negara ASEAN untuk menghadapi konferensi perubahan iklim di Copenhagen, Denmark, pada Desember 2009.
Pembukaan KTT ke-15 ASEAN di Hotel Dusit Thani, Hua Hin, Thailland, pada Jumat pagi, 23 Oktober, hanya dihadiri lima kepala Negara/pemerintahan negara ASEAN. Lima pemimpin negara ASEAN, yaitu PM Kamboja Hun, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo, dan Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak, belum hadir pada KTT itu.
Sebenarnya banyak harapan yang diinginkan negara-negara anggota ASEAN lain terhadap peran Indonesia di G-20. Representasi Indonesia di G-20 setidaknya membawa suara ASEAN dan kepentingan Asia Tenggara.Jangan justru terjadi pelamahan peran Indonesia di ASEAN setelah peran barunya di G-20. Hal ini justru menjadi kontra produktif mengingat ASEAN adalah halaman rumah sendiri.
Dekan Paramadina Graduate School of Diplomacy Universitas Paramadina, Dinna Wisnu berpendapat, sebenarnya dari segi pembangunan ekonomi dan strategi pertumbuhannya, Indonesia belum optimal memanfaatkan pasar ASEAN serta modal tenaga kerja, kekayaan alam dan posisi geostrategis negeri ini. Jadi jika Indonesia memanfaatkan hubungan baik dengan negara-negara ASEAN secara optimal, peranan di tingkat global seperti di G20 juga akan lebih kuat.
Dinna mencatat bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif paska krisis global 2009 sementara Malaysia, Singapura dan Thailand mengalami pertumbuhan yang minus, rata-rata pertumbuhan ekonomi kita sudah kalah pesat dibandingkan Vietnam, Laos dan Kamboja, negara-negara yang sebenarnya baru mulai berkembang di tahun 2000an. ''Salah satu sebabnya adalah Indonesia belum secara optimal memanfaatkan pemasaran produk barangnya ke negara-negara ASEAN,'' ujar Dinna pada acara temu konsorsium politik luar negeri Indonesia di Jakarta baru-baru ini.
Indonesia Harus Tetap Kritis
Peran baru G-20 itu mencerminkan munculnya kesadaran negara-negara maju bahwa krisis keuangan global yang terjadi dua tahun terakhir ini tidak bisa mereka atasi sendiri tanpa melibatkan negara lain. Negara industri maju juga tidak bisa menghindari fakta bahwa perekonomian sejumlah negara lain mampu melesat jauh. Sebut saja kesuksesan yang diraih China, India, dan Brasil.
Fakta itulah yang mendorong kesadaran negara maju perlunya membentuk tatanan ekonomi baru dunia. Mereka tak ingin dininabobokan oleh dominasi yang mereka genggam selama ini. Sejumlah komitmen pun disepakati pada KTT G-20 di Pittsburgh menuju tatanan ekonomi baru itu. Misalnya, memberikan hak suara kepada negara-negara berkembang dalam badan-badan internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan bank pembangunan regional.
Tatanan ekonomi baru itu negara-negara maju ingin sharing power kepada negara lain. Hal ini karena kondisi krisis yang menimpa negara-negara maju yang merupakan negara-negara anggota G-20. Ada semacam hiden agenda untuk mendistribusikan persoalan ke negara-negara lain. Beban akibat krisis keuangan global ingin juga ditanggung oleh negara-negara lain lewat perubahan peran G-20.
Tentunya hal ini untuk menjadi bahan masukan bagi delegasi G-20 Indonesia agar lebih kritis. Jangan mudah bersetuju tanpa memikirkan kepentingan nasional dan regional ASEAN. Ingatlah kita sangat diharapkan oleh teman-teman ASEAN lain.
Sumber bahan:
1. www.rri.co.id
2. www.voi.co.id
3. www.republika.co.id
4. deplu.gol.id









