China menjadi negara yang mendapat perhatian secara khusus oleh semua negara yang memperhatikan posisi kekuatan militer. Selain kebangkitan ekonomi China juga melakukan gebrakan pada kapasitas militer, dengan peningkatan anggaran untuk moderinisasi peralatan militer dengan melakukan loncatan teknologi. Pada Tahun 2009 Pemerintah China menaikkan anggaran militer mencapai 480,686 miliar yuan (70,2 miliar dolar AS), meningkat 62,482 miliar yuan dari 2008, kata jurubicara parlemen China, Li Zhaoxing kepada para wartawan seperti dikutip AFP. Kemudian pada tahun 2010 ini peningkatan lagi yang besarannya masih ditentukan pemerintah China, kemungkinan seperti yang di lansir sebuah lembaga riset perdamaian internasional di Stockholm itu, China akan menambahakn lagi sebesar 10% dari 84,9 miliar dollar tahun lalu untuk anggaran militer tahun 2010.
China telah menjadi negara kedua yang punya anggaran militer paling besar di dunia, setelah Amerika Serikat, kata sebuah lembaga riset perdamaian Swedia. Nomor tiga adalah Perancis, disusul Inggris dan Rusia, tetapi dilihat dari proyeksinya Prancis dan Inggris memang sudah lama memiliki besaran anggaran seperti sekarang ini. Jadi bisa dikatakan anggaran militer China menyusul secara cepat dibebarapa tahun terakhir ini.
Isu kekuatan militer sangat kritis dan sensitif. Kebangkitan China yang juga berarti kebangkitan ekonomi dan juga militer menjadi kekhawatiran beberapa negara, khususnya yang mempertahankan hegomoni sebagai syarat pertahanan nasional negara tersebut.
Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Taiwan, Korea Selatan, Jepang dan Australia masuk dalam lingkup negara yang mengkhawatirkan perkembangan China.Seperti keluhan pejabat deputi asisten Menhan AS untuk Asia Timur, David Sedney, ahli masalah China terkemuka di Pentagon, Washington seringkali mengeluhkan sikap China yang tidak terbuka dalam menjelaskan motivasi peningkatan anggaran untuk memodernisasi militernya. "Hal terpenting yang perlu dicermati adalah fakta bahwa kita tidak memiliki pemahaman atas maksud-maksud China," kata Sedney, deputi asisten Menhan AS untuk Asia Timur, seperti dikutip kantor berita Reuters. "Inilah yang menimbulkan ketidakpastian."
Lain dari tujuh negara yang mengkhewatrikan kemajuan militer China, negara-negara ASEAN justru memandang kemajuan China baik secara ekonomi dan militer justru secara positif. Seperti yang diungkapkan oleh Direktur Analisis Lingkungan Strategis, Ditjen Strahan Dephan Brigjen TNI Marciano Norman, menilai modernisasi perlengkapan militer yang dilakukan China, juga di negara-negara ASEAN, dan Indonesia hendaknya tidak harus dan menjadi suatu kekhawatiran satu sama lain tapi harus ditanggapi dengan kewajaran, selama diimbangi dengan transparansi sehingga mampu memberikan keyakinan. "Adanya modernisasi militer di ASEAN dan China adalah sesuatu yang wajar selama itu semua diimbangi dengan transparansi yang sama-sama dibangun sesama negara. Sehingga tidak perlu menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan," kata Brigjen TNI Marciano Norman.
Menurut Norman, hal yang penting untuk menjaga situasi dunia yang aman dan masalah akan timbul apabila modernisasi militer sudah tidak diimbangi oleh transparansi oleh masing-masing negara di kawasan regional, sehingga sangat berpotensi untuk menimbulkan kecurigaan. Tapi, katanya, sepanjang ASEAN dan China berniat melakukan modernisasi dengan transparan, yang intinya juga untuk menjaga kedamaian regional dan dunia, maka keterbukaan itu perlu dihormati dan dihargai dengan baik. "China mengundang kita ke sini untuk mendengarkan pendapat Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya dan China juga ingin mengetahui mengenai bagaimana dan seperti apa modernisasi yang selama ini dilaksanakan," katanya.
Norman menilai, modernisasi militer adalah suatu konsekuensi logis dari era globalisasi seperti sekarang ini, ketika perkembangan teknologi tumbuh begitu pesat maka modernisasi terhadap militer juga merupakan suatu keharusan. Karena apabila perkembangan teknologi yang begitu maju tidak diimbangi dengan modernisasi militer, maka hal tersebut merupakan sesuatu hal yang tidak wajar.
"Itu adalah adalah konsekuensi logis bila militer melakukan modernisasi seiring dengan kemajuan teknologi. Siapa atau negara mana yang ingin menggunakan suatu teknologi yang sudah usang atau teknologi yang sudah tidak zamannya, tentara di dunia ingin bagaimana mereka melaksanakan tugasnya diiringi oleh kemajuan teknologi," katanya.
Ia mencontohkan, jika suatu negara bisa mengamankan suatu daerah dengan teknologi komunikasi yang baik, teknologi penginderaan yang baik, serta teknologi radar yang mampu menjangkau wilayah yang diinginkan maka sesuatu hal yang wajar jika kemajuan teknologi diapresiasi.
Selain itu, katanya, modernisasi yang didukung teknologi canggih, juga bisa menimbulkan efisiensi dalam penyebaran tentara. misalnya saja tanpa ada modernisasi membutuhkan 1.000 tentara untuk memantau wilayah maka dengan teknologi maju hanya dibutuhkan 500 tentara. Melihat kondisi seperti itu, ia menilai bahwa modernisasi militer yang selama ini dilakukan oleh suatu negara bukanlah sebagai sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan atau ditakutkan, selama masing-masing negara transparan.
Dari pejabat China sendiri juga menjamin bahwa peningkatan kapasitas militer justru untuk perdamaian dan keamanan. Penegasan ini disampaikan oleh Ketua Akademi Ilmu pengetahuan Militer (AMS) Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China Letjen Liu Chengjun, yang mengatakan bahwa modernisasi dan kemajuan teknologi sejumlah peralatan militer China bukan merupakan ancaman apalagi untuk menyerang negara-negara di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia, tapi justru akan digunakan untuk menjaga stabilitas dan keamanan di wilayah itu. "Kemajuan dan modernisasi yang dimiliki China hendaknya jangan dijadikan suatu penilaian negatif tapi hendaknya dilihat untuk bersama-sama meningkatkan keamanan dan stabilitas bersama ASEAN," kata Letjen Liu Chengjun.
Menurutnya, dilihat secara geografis China dan ASEAN memiliki letak yang berdekatan bahkan dengan salah satu negara ASEAN memiliki perbatasan langsung, sehingga secara tradisional pun sesungguhnya telah menjalin suatu penjagaan keamanan. Hubungan geografis yang dekat justru menjadi tanggungjawab positif antara China dan ASEAN dalam menjaga kawasan. Modernisasi yang dikembangkan oleh China, katanya, justru ingin dipergunakan oleh Pemerintah China untuk bersama-sama ASEAN menjaga dan meningkatkan stabilitas dan keamanan di kedua wilayah itu, yang justru pada akhirnya akan menciptakan rasa aman dan damai.
Pendapat lain disamapaikan oleh Mayjen Qian Lihua, Direktur Masalah Luar Negeri Kementrian Pertahanan Nasional China, mengatakan kerjasama militer antara ASEAN dan China telah terjalin cukup lama dan dengan beberapa negara bahkan telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang saling menguntungkan dan saling menghormati. Menurutnya, China tidak akan berupaya untuk ikut mencampuri urusan dalam negeri ASEAN dan demikian pula sebaliknya, sehingga saling menghormati dan saling kepercayaan tetap terjaga hingga kini. "Kerjasama itu dinilai sangat penting dan strategis untuk menciptakan suatu stabilitas keamanan yang kondusif di kawasan ASEAN dan China," katanya.
Pemerintah Indonesia dan Pemerintah China sepakat melakukan kerjasama bidang pertahanan sebagai tindaklanjut dari Kerjasama Strategis yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu JIntao, April 2005. Kerjasama pertahanan kedua negara masing-masing ditandatangani oleh Menhan RI Juwono Sudarsono dan Menhan China Cao Gangchuan, di Beijing, tanggal 7 November 2008. Kedua menteri telah menandatangani kerjasama di berbagai bidang pertahanan, diantaranya kerjasama di bidang kelembagaan, kerjasama di bidang teknologi, serta bidang pendidikan dan latihan.
Sumber pustaka :
1. www.antaranews.com/view/?i=1205484017&c=ART&s=
2. www.indonesianvoices.com/index.php?option=com_content&view=article&id=139
3. www.antaranews.com/view/?i=1204633852&c=TEK&s=
4. www.indonesianvoices.com/index.php?option=com_content&view=article&id=347
5. www.indonesianvoices.com/index.php?option=com_content&view=article&id=247