Head of Corporate Banking HSBC Indonesia, Mark Emmerson menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi (GDP 2009 5.8%, diperkirakan naik menjadi 6% 2010 dan 6.5% tahun depan), labor cost yang rendah (seperempat dari labor cost Malaysia), akan membuka peluang bagi pebisnis Malaysia berinvestasi di Indonesia.
Beberapa sektor yang dapat menjadi fokus peluang investasi Malaysia di Indonesia, menurut Mark Emmerson adalah sektor pertambangan dan pertanian. Selain itu, sehubungan domestic consumption yang sangat besar (65% GDP diserap oleh domestic consumption), maka bisnis yang memiliki target pada golongan muda (new middle class) akan sangat menjanjikan.
Sementara itu, Karim Raslan, Group CEO KRA Group, konsultan dan kolumnis Malaysia yang pernah tinggal selama 10 tahun di Indonesia, menyampaikan satu hal menarik bahwa kesamaan budaya dan bahasa antara Indonesia dan Malaysia merupakan sebuah keuntungan bagi pebisnis Malaysia untuk berinvestasi di Indonesia.
Beberapa sektor yang menurut Karim dapat dijadikan fokus investasi adalah infrastruktur dan industri yang memproses raw material. Selain itu, pebisnis Malaysia sebaiknya menilik hubungan daerah ke daerah, seperti misalnya “Medan – Penang”, “Pekanbaru – Melaka”, “Balikpapan - Kota Kinabalu”; dan tidak berfokus semata-mata pada Jakarta.
Namun demikian, Karim juga mengingatkan bahwa pada dasarnya pertumbuhan ekonomi sebesar 6% walau merupakan pertumbuhan yang cepat namun tidak dapat dikategorikan sebagai ‘booming’. Oleh karena itu bersikap realistis perlu diperhatikan oleh pebisnis Malaysia, sehubungan masih banyak diperlukan pembenahan di Indonesia.
Pernyataan para praktisi bisnis mengenai peluang investasi Malaysia di Indonesia disampaikan dalam sebuah seminar bertajuk “Activate Asia: Insight Indonesia” di One World Hotel Petailing Jaya, Kuala Lumpur, kemarin (8/7).
Seminar yang didukung oleh KBRI Kuala Lumpur tersebut terselenggara atas kerjasama dengan The Associated Chinese Chambers of Commerce and Industry Malaysia (ACCCIM), The Chinese Chambers of Commerce and Industry Kuala Lumpur and Selangor (KLSCCCI), HSBC dan Amanah Islamic Financial Solutions.
Seminar yang ditargetkan menarik 300 pebisnis, ternyata telah mampu menarik minat lebih dari 700 pebisnis Malaysia untuk hadir dalam seminar setengah hari tersebut. Jumlah tersebut dapat dkatakan sebagai indikator tingginya minat pebisnis Malaysia berinvestasi di Indonesia.
Dalam sambutan pembukaan acara tersebut, Duta Besar Da’i Bachtiar menyampaikan bahwa penyelenggaraan seminar ini merupakan salah satu upaya KBRI Kuala Lumpur untuk lebih memperkenalkan Indonesia, khususnya dalam bidang investasi kepada publik di Malaysia. Duta Besar RI menyampaikan bahwa dalam era Pemerintahan SBY rejim investasi secara relatif lebih terbuka dan berpihak pada kepentingan bisnis.
Dibentuknya BKPM sebagai “one stop solution”, lanjutnya,diharapkan mampu meminimalkan kerepotan birokrasi dan memudahkan para investor yang ingin berinvestasi di Indonesia.
Hubungan perdagangan RI-Malaysia pun cukup baik dengan pertumbuhan rata-rata 12.7% per tahun. Namun demikian berdasarkan data 2004-2009, masih terdapat ketidakseimbangan total perdagangan, dimana investasi Malaysia ke Indonesia telah mencapai sebesar US$ 1,5 milyar, sementara investasi Indonesia ke Malaysia hanya sebesar US$ 534 juta.
Dubes Bachtiar mengungkapkan bahwa KBRI Kuala Lumpur cukup sering menerima keluhan pebisnis Malaysia yang akan berinvestasi di Indonesia mengenai prosedur berbelit-belit yang harus dilalui, belum berjalannya BKPM sepenuhnya sesuai fungsinya, selain kenyataan bahwa infrastruktur dan tenaga listrik masih sangat kurang di Indonesia.
Di lain pihak, pebisinis Indonesia pun sering kesulitan atau memakan waktu lama untuk mendapatkan bisnis visa dari pemerintah Malaysia. Melalui seminar semacam ini, diharapkan kedua belah pihak dapat mendapatkan manfaat, sehingga berkontribusi kepada peningkatan hubungan Indonesia dan Malaysia.
Dalam konferensi pers yang dilakukan setelah acara pembukaan, Dubes Bachtiar menyampaikan bahwa pada dasarnya hubungan bisnis kota-kota di Malaysia dengan daerah di Malaysia telah berjalan, seperti Medan dengan Penang. Hubungan yang intens tersebut juga ditunjang oleh kemudahan transportasi, seperti adanya penerbangan langsung dari daerah.
Sumber : deplu.go.id