Oleh Sumantiri B. Sugeo
Perang dingin yang telah lama usai paska bubarnya Unit Soviet sebagai blok timur yang menjadi rival berat Amerika Serikat dan Eropa Barat. Tanda-tanda percikan permusuhan mulai terasah setelah Kosovo memerdekakan diri dari Serbia. Serbia yang didukung Rusia dan negara-negera yang masih setia dengan Blok Eropa Timur bekas bagian dari Uni Soviet, sedangkan kemerdekaan Kosovo didukung oleh negara-negera anggota NATO dan Amerika Serikat.
Selain faktor kemerdekaan Kosovo, usaha-usaha Amerika Serikat untuk membangun instalasi missil di Eropa juga menjadi isu yang sangat mengganggu dua negara yang memiliki teknologi canggih dalam bidang militer tersebut. Baru-baru ini mantan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev merasa kecewa dan kesal kepada Amerika Serikat yang menurutnya memulai perang dingin kembali. Hal ini disampaikannya pada saat Amerika Serikat sedang
membangun instalasi Missil di Tengah dan Timur Eropa tersebut. "Amerika Serikat tidak dapat ditoleransi atas usahanya untuk yang berlaku sepihak" Katanya dalam wawancara dengan Daily Telegraph. Dia juga berkata, "Aksi Amerika Serikat ini akan memicu kembali perlombaan senjata yang berakibat sangat berbahaya. Mereka kelihatanya tidak dapat dipercaya."
Washington mengklaim bahwa senjata anti-missile system yang dibangunya untuk negara Poland dan Republik Cesnya hanya untuk mengkonter serangan dari sesuatu yang dikatakan sebagai 'rogue states' seperti Iran, Serbia atau negara Eropa Timur yang masih pro Rusia dianggap mengancam, tetapi Gorbachev berkata bahwa pernyataan tersebut tidak dapat dipercaya, karena pada kenyataanya selama paska perang dingin sudah tidak ada lagi negara-negara Eropa yang membangun basis senjata missil.
Hal lain yang dianggap mengancam menurut Mikhail Gorbachev adalah mengungatnya pengaruh NATO sampai ke negara-negara Eropa Timur Pecahan Uni Soviet. Rusia yang baru menyelenggarakan pemilu dengan hasil Dmitry Medvedev sebagai presiden sudah mulai merasakan kemunduran pengaruhnya terhadap negara-negara pecahan Uni Soviet.
Potensi perang dingin akan terjadi jika kekuatan Rusia yang menunjukkan kebangkitan paska kehancuran ekonomi paska bubarnya Uni Soviet dan kebangkitan ekonomi China yang luar biasa. Gedung Putih mulai mewaspadai kekuatan yang semula tidur ini adalah potensi keamanan yang paling dikhewatirkan. Pendekatan Washington yang lebih lunak kepada Rusia, dan mengharapkan Rusia mau untuk mulai merundingkan kembali pengurangan jumlah nuklir kedua belah pihak. Terhadap China pun demikian, apalagi paska kehancuran ekonomi 2008 akibat kesalahan pada sektor keuangan negeri Pman Sam itu. AS merangkul China untuk ikut melakukan restorasi terhadap ekonomi dunia, hal ini diharapkan akan memberikan dampak yang positif terhadap ekonomi AS.
Tampaknya model baru perang dingin ini timur akan lebih banyak memberikan peran, akibat kekuatan ekonomi Rusia dan China yang merupakan musuh idelogi AS yang paling menentukan perjalanan politik dunia abad 21 ini. Ini penting bagi keseimbangan kekuatan antara Timur dan Barat, dan mengurangi resiko hegemony dari satu kekuatan yang terlalu diktator.









